TNews, MEDAN — Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sumatera Utara, H. Ahmad Qosbi, S.Ag, MM menekankan pentingnya pelatihan rukyatul hilal sebagai upaya memperkuat kerukunan, kekompakan, dan persaudaraan antarumat Islam di Sumatera Utara. Hal ini disampaikannya saat membuka Pelatihan Rukyatul Hilal yang digelar oleh Dewan Pimpinan Wilayah Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Provinsi Sumatera Utara, Kamis (12/2/2026), di Aula Al-Falah Pondok Pesantren Al-Falah Medan.
“Jadikan rukyatul hilal sebagai ibadah dan bentuk pengabdian kepada bangsa dan negara. Jaga kerukunan dan kekompakan, junjung tinggi profesionalisme,” pesan Qosbi kepada para peserta.
Kakanwil menekankan bahwa menjelang sidang isbat penetapan awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah 1447 H, peran sumber daya manusia (SDM) yang terampil dalam ilmu falak dan observasi hilal sangat krusial. Menurutnya, kegiatan ini merupakan bukti nyata partisipasi aktif ormas Islam dalam memperkuat pemahaman umat, sekaligus meminimalkan perbedaan dalam penentuan awal bulan Qomariah syar’i.
Selain itu, Qosbi menyebut regulasi terkait sidang isbat telah mengacu pada Peraturan Menteri Agama Nomor 1 Tahun 2026, yang menetapkan Matlak Wilayatul Hukmi dan Kriteria Baru MABIMS (Brunei Darussalam, Malaysia, Indonesia, dan Singapura) dalam menentukan visibilitas hilal. Hilal dikatakan memenuhi syarat rukyat apabila ketinggiannya minimal 3 derajat di atas ufuk dan sudut elongasi geosentris bulan terhadap matahari minimal 6,4 derajat.
Ketua DPW LDII Sumatera Utara, H. Hasoloan Simanjuntak, ST, menambahkan bahwa pelatihan ini bertujuan membekali 32 peserta dari DPD LDII kabupaten/kota se-Sumatera Utara dengan ilmu falak dan astronomi, agar mereka dapat berperan aktif dalam pemantauan hilal. “Kami terus bersinergi dengan Kanwil Kemenag Sumut dan BBMKG untuk mendukung sidang isbat, sehingga umat Islam di Sumatera Utara memiliki kepastian dalam memulai ibadah syar’i,” jelas Hasoloan.
Pelatihan ini menjadi wujud kolaborasi antara pemerintah dan ormas Islam untuk menjaga ketertiban, kondusivitas, dan kebersamaan umat, sekaligus memperkuat peran LDII dalam memberikan edukasi hasil observasi hilal kepada masyarakat.*
Peliput: Nanda







